𝗖𝗜𝗥𝗖𝗨𝗟𝗢𝗦 𝗚𝗘𝗡-𝗭 – Telegram
𝗖𝗜𝗥𝗖𝗨𝗟𝗢𝗦 𝗚𝗘𝗡-𝗭
7.74K subscribers
1.86K photos
338 videos
289 files
221 links
𝗛𝗔𝗡𝗬𝗔 𝗔𝗗𝗔 𝗗𝗜 𝗟𝗔𝗣𝗔𝗞 𝗧𝗘𝗟𝗘𝗚𝗥𝗔𝗠

⫷ MARKED. UNLEASHED. DEAD OR. FEARED. ⫸

CH OFC: @CIGEZOFC
CH ADM : @SHITPOSTCIGEZ
BOT OFC : @cigezbot
CH ARSIP : @ARSIPCIGEZ
BOT MPPS : @mppsCIGEZbot


❝「 Since 13 December 2022 」❞
Download Telegram
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Pernah merasa seperti sudah pernah mengalami suatu kejadian, padahal itu baru pertama kali terjadi? Fenomena ini disebut déjà vu, istilah yang diperkenalkan oleh Émile Boirac lebih dari satu abad lalu. Déjà vu atau paramnesia adalah kondisi ketika otak membuat kita merasa pernah berada di suatu situasi, mengenal seseorang, atau mengalami sesuatu sebelumnya, meskipun sebenarnya belum pernah terjadi.

Biasanya sensasi ini hanya berlangsung sekitar 10–30 detik dan muncul secara tiba-tiba. Secara ilmiah, déjà vu dianggap sebagai kesalahan kecil dalam sistem memori otak, di mana pengalaman baru tersimpan seperti kenangan lama. Beberapa ilmuwan mencoba menjelaskan fenomena ini, salah satunya Alan S. Brown, yang mengklasifikasikan berbagai teori tentang penyebab déjà vu.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
1. Pemrosesan ganda

Ide utamanya adalah penegasan déjà vu sebagai hasil dari dua proses kognitif paralel tersinkronisasi yang kehilangan sinkronisasi untuk sementara. Asinkronisasi ini mungkin disebabkan oleh tidak adanya proses ketika yang lain diaktifkan atau fakta bahwa otak sedang menyandikan informasi dan memulihkannya pada saat yang sama, yaitu, dua jalur terkait yang biasanya terpisah bergabung. Fakta mengamati gambar dan pada saat yang sama mengingatnya memberi kita perasaan pernah mengalami situasi itu sebelumnya.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
2. Neurologis:

Déjà vu diproduksi karena disfungsi / gangguan singkat di sirkuit korteks temporal, yang terlibat dalam pengalaman mengingat situasi yang hidup. Fakta ini menghasilkan “memori palsu” dari situasi tersebut. Teori ini dibenarkan dengan penelitian terhadap pasien epilepsi korteks temporal, yang sering mengalami Déjà Vu sebelum menderita salah satu kejang. Dengan mengukur pelepasan neuronal di otak pasien ini, para ilmuwan telah dapat mengidentifikasi wilayah otak tempat sinyal déjà vu dimulai dan bagaimana dengan menstimulasi wilayah yang sama tersebut dapat menghasilkan sensasi itu.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
3. Mnesic

Dia mendefinisikan déjà Vu sebagai pengalaman yang dihasilkan oleh kesamaan dan tumpang tindih antara pengalaman masa lalu dan masa kini. Psikolog Anne M. Cleary (2008), peneliti basis saraf yang mendasari déjà vu, mendalilkan fenomena ini sebagai mekanisme metakognitif normal yang terjadi ketika pengalaman masa lalu memiliki kemiripan dengan pengalaman saat ini dan, akibatnya, membuat kita percaya bahwa kami sudah pernah ke sana. Melalui berbagai studi dan penelitian, telah ditunjukkan bahwa pikiran menyimpan potongan-potongan informasi, yaitu tidak menyimpan informasi yang lengkap dan, oleh karena itu, ketika kita mengamati, misalnya, sebuah jalan yang mirip atau memiliki elemen yang identik. atau serupa, perasaan ini mungkin muncul.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
4. Persepsi atau perhatian ganda

Didalilkan bahwa fenomena tersebut dihasilkan sebagai konsekuensi dari gangguan sesaat otak sesaat setelah bagian dari pemandangan tersebut ditangkap (bukan memori eksplisit). Ketika perhatian ini diambil kembali (sepersekian detik) dan pengambilan lengkap dilakukan, kami mengaitkan ke adegan itu rasa keakraban yang kuat tanpa menyadari asalnya, memberikan perasaan “memori palsu”, karena telah terdaftar secara implisit dan tidak sadar.

Fakta adanya berbagai teori menunjukkan bahwa fenomena semacam itu bukan disebabkan oleh satu penyebab. Demikian juga, memang benar bahwa tidak semua déjà vu adalah konsekuensi dari proses mnesik normal, karena tampaknya ada jenis déjà vu yang terkait dengan perubahan mnesik yang diamati dalam patologi seperti skizofrenia atau, seperti yang disebutkan di atas, pada epilepsi korteks temporal dimana fenomena tersebut dapat berlangsung beberapa menit atau bahkan beberapa jam (Thompson, Moulin, Conway & Jones, 2004).
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Berdasarkan penelitian Theodore Millon dan timnya, sekitar 60% orang pernah mengalami déjà vu. Fenomena ini juga lebih sering muncul saat seseorang sedang stres atau kelelahan, menurut penelitian Alan S. Brown. Déjà vu biasanya mulai terjadi sekitar usia 8–9 tahun, dan menjadi lebih sering pada usia 10–20 tahun.

Dalam beberapa kasus, déjà vu juga bisa berkaitan dengan kecemasan atau proses penuaan yang memengaruhi ingatan. Sensasi ini sering muncul tiba-tiba di suatu momen, membuat seseorang merasa seolah pernah mengalami atau memimpikan kejadian yang sama sebelumnya.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
dan itu dia pembahasan tentang fenomena Déjà vu, salah satu pengalaman aneh yang ternyata cukup sering dialami banyak orang dan sampai sekarang masih jadi topik menarik dalam dunia sains. mau kalian anggap ini cuma glitch kecil di otak, atau sesuatu yang terasa misterius, one thing is clear. otak manusia jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan.

kadang hal-hal yang terasa “pernah terjadi” itu sebenarnya cuma cara otak kita memproses memori dan informasi secara unik. bukan hal supranatural, tapi tetap bikin kita merinding sedikit ketika momen itu datang tiba-tiba.

maka dari itu, gua [ 🗽] Solavano Kenneth. thanks for staying till the end. kalau kalian suka pembahasan tentang fenomena unik, misteri pikiran manusia, dan hal-hal yang bikin kita mikir dua kali tentang realita, stick around, because there’s always another topic waiting to be explored. See you in the #GZTR next one.
🔥1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Wassup, bud? kalian apa kabar nih? semoga baik-baik aja ya. perkenalkan gua [ 🗽] Solavano Kenneth, and tonight kita bakal bahas sesuatu dari salah satu gunung paling terkenal di Jawa, Gunung Slamet.

gunung ini bukan cuma dikenal karena jalur pendakiannya yang menantang, tapi juga karena berbagai mitos yang sudah lama dipercaya masyarakat sekitar. dari cerita penunggu gaib sampai pantangan aneh bagi para pendaki.

so sit back and get ready, karena di #GZTR kali ini kita bakal ngebahas 6 mitos Gunung Slamet yang dipercaya masyarakat sekitar. dan bahkan kalian juga akan mikir keras tentang mitos mitos ini.
1❤‍🔥2🔥2
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
1. Mitos Meletusnya Gunung Slamet akan Membelah Pulau Jawa.

Sebagian masyarakat Jawa mempercayai bahwa Gunung Slamet sebagai pusat dari Pulau Jawa. Sebelumnya, nama gunung ini adalah Gunung Agung. Kemudian diganti dan sampai sekarang dikenal dengan Gunung Slamet.

Letusan terakhir gunung ini terjadi pada 2009. Gunung Slamet mengeluarkan lava pijar berupa semburan di dalam kawah.

Menurut sesepuh di Dusun Bambangan yang berada di sekitar Gunung Slamet, gunung tersebut belum pernah meletus parah yang sampai menyemburkan lahar hebat sejak zaman kakek buyut. Yang selama ini terjadi sebatas 'batuk-batuk' saja atau membuang napas.

Seperti yang dikatakan mitos orang dahulu, jika Gunung Slamet benar-benar meletus maka ia akan membelah Pulau Jawa menjadi dua bagian. Ini kemungkinan karena retakan besar yang membentang dari utara ke selatan bisa saja muncul sehingga dua bagian yang terbentuk itu akan bergeser saling menjauh.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
2. Mitos Upacara Ruwat Bumi di Gunung Slamet untuk Memohon Keselamatan.

Kata 'slamet', nama gunung ini, dalam bahasa Indonesia artinya selamat. Dari namanya saja, masyarakat Bambangan yakin bahwa Gunung Slamet memberikan rasa aman dan keselamatan bagi masyarakat sekitarnya.

Gunung Slamet juga dipercaya sebagai gunung keramat. Hingga kini pun masih ada masyarakat sekitarnya yang memohon berkah, keselamatan, hingga ketenteraman di sana. Ada pula warga yang melakukan semedi selama beberapa hari di gunung tersebut.

Agar permohonan di Gunung Slamet dapat terkabul, masyarakat Bambangan melakukan tradisi ruwat bumi. Upacara ini dilaksanakan satu tahun sekali pada bulan Sura atau Muharram. Biasanya diadakan pada malam Selasa Kliwon atau malam Jumat Kliwon.

Dengan menggelar upacara ruwat bumi, masyarakat setempat percaya keseimbangan manusia dengan alam dapat terwujud sehingga menciptakan ketenteraman dan keselamatan bagi sekitarnya.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM