⠀
──
Kasus ini ditangani langsung oleh ahli forensik legendaris Indonesia, Mun'im Idries. Dalam berbagai kesempatan, ia menyebut kasus ini sebagai salah satu yang paling bengis… dan paling membekas sepanjang kariernya.
Dari hasil autopsi, potongan tubuh itu tidak dilakukan secara sembarangan. Ada pola. Ada teknik. Seolah pelaku tahu persis bagaimana memisahkan bagian tubuh manusia. Ini bukan tindakan panik. Ini bukan kejahatan impulsif. Ini terasa terencana.
⠀
──
/Raizen adjusted his microphone slightly ; the faint sound of his chair shifting echoed in the studio ; he intertwined his fingers on the table ; his voice lowered a tone, slower this time ; the air felt tighter as he began to speak/──
彡🎙𝚁𝚊𝚒𝚣𝚎𝚗'𝚜 𝚂𝚙𝚎𝚊𝚔𝚒𝚗𝚐..
Kasus ini ditangani langsung oleh ahli forensik legendaris Indonesia, Mun'im Idries. Dalam berbagai kesempatan, ia menyebut kasus ini sebagai salah satu yang paling bengis… dan paling membekas sepanjang kariernya.
Dari hasil autopsi, potongan tubuh itu tidak dilakukan secara sembarangan. Ada pola. Ada teknik. Seolah pelaku tahu persis bagaimana memisahkan bagian tubuh manusia. Ini bukan tindakan panik. Ini bukan kejahatan impulsif. Ini terasa terencana.
Dan yang lebih mengganggu — hingga hari ini, identitas korban belum pernah benar-benar terungkap ke publik. Siapa dia? Dari mana asalnya? Dan kenapa tubuhnya harus dihilangkan dengan cara sekejam itu?
⠀
❤1🔥1😱1
⠀
──
Pagi 23 November 1981, saat jam kerja baru dimulai, dua satpam kantor PT. Garuda Mataram Motor melihat sesuatu yang janggal di trotoar Jalan Jenderal Sudirman, Setiabudi, Jakarta Pusat. Tepat di seberang Gedung Arthaloka — yang sekarang dikenal sebagai cabang Bank Muamalat — ada dua kardus besar tergeletak begitu saja.
Awalnya terlihat seperti barang buangan biasa. Jakarta terbiasa dengan benda-benda yang ditinggalkan di pinggir jalan. Tapi ada satu hal yang berbeda. Dari dalam kardus itu tercium bau anyir yang kuat… dan lalat mulai mengerubunginya, tidak wajar untuk pagi hari yang masih sibuk.
Kedua satpam itu sempat melaporkan temuan tersebut kepada seorang polisi yang sedang mengatur lalu lintas. Namun karena kondisi jalan sedang padat, laporan itu tidak langsung ditindaklanjuti.
⠀
──
/Azaam tapped his pen lightly against the table ; the faint hum of the recorder filled the pause ; he exchanged a brief glance with Raizen before leaning closer to the mic ; his voice came out steadier, but lower/──
彡🎙𝙰𝚣𝚊𝚊𝚖'𝚜 𝚂𝚙𝚎𝚊𝚔𝚒𝚗𝚐..
Pagi 23 November 1981, saat jam kerja baru dimulai, dua satpam kantor PT. Garuda Mataram Motor melihat sesuatu yang janggal di trotoar Jalan Jenderal Sudirman, Setiabudi, Jakarta Pusat. Tepat di seberang Gedung Arthaloka — yang sekarang dikenal sebagai cabang Bank Muamalat — ada dua kardus besar tergeletak begitu saja.
Awalnya terlihat seperti barang buangan biasa. Jakarta terbiasa dengan benda-benda yang ditinggalkan di pinggir jalan. Tapi ada satu hal yang berbeda. Dari dalam kardus itu tercium bau anyir yang kuat… dan lalat mulai mengerubunginya, tidak wajar untuk pagi hari yang masih sibuk.
Kedua satpam itu sempat melaporkan temuan tersebut kepada seorang polisi yang sedang mengatur lalu lintas. Namun karena kondisi jalan sedang padat, laporan itu tidak langsung ditindaklanjuti.
Dan dua kardus itu… tetap dibiarkan di sana. Seolah kota ini belum siap melihat apa yang ada di dalamnya.
⠀
❤2
⠀
──
──
Beberapa waktu kemudian, dua orang gelandangan yang melintas melihat kardus tersebut. Rasa penasaran membawa mereka mendekat. Mungkin mereka mengira itu sisa barang layak pakai. Mungkin berharap ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan.
Tapi ketika kardus pertama dibuka… yang mereka temukan bukan pakaian. Bukan makanan. Bukan barang elektronik. Melainkan potongan tubuh manusia.
Di dalam kardus pertama terdapat tiga belas tulang dan satu kepala. Tulang-tulang itu telah dikerat bersih dari dagingnya, seolah dipisahkan dengan teknik tertentu. Bukan sembarang potongan. Ada keteraturan di dalamnya.
Dan kardus kedua… jauh lebih mengerikan. Sekitar 180 potongan daging manusia ditemukan di dalamnya, termasuk organ-organ dalam seperti paru-paru, hati, dan limpa.
──
/Callunaa folded her hands slowly ; her eyes lowered for a second before she continued ; the studio felt colder somehow ; the sound of someone shifting slightly in their seat echoed faintly ; she inhaled softly before speaking again/
──
彡🎙𝙲𝚊𝚕𝚕𝚞𝚗𝚊𝚊'𝚜 𝚂𝚙𝚎𝚊𝚔𝚒𝚗𝚐..
Beberapa waktu kemudian, dua orang gelandangan yang melintas melihat kardus tersebut. Rasa penasaran membawa mereka mendekat. Mungkin mereka mengira itu sisa barang layak pakai. Mungkin berharap ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan.
Tapi ketika kardus pertama dibuka… yang mereka temukan bukan pakaian. Bukan makanan. Bukan barang elektronik. Melainkan potongan tubuh manusia.
Di dalam kardus pertama terdapat tiga belas tulang dan satu kepala. Tulang-tulang itu telah dikerat bersih dari dagingnya, seolah dipisahkan dengan teknik tertentu. Bukan sembarang potongan. Ada keteraturan di dalamnya.
Dan kardus kedua… jauh lebih mengerikan. Sekitar 180 potongan daging manusia ditemukan di dalamnya, termasuk organ-organ dalam seperti paru-paru, hati, dan limpa.
Ini bukan sekadar pembunuhan. Ini adalah proses pemisahan tubuh yang dilakukan secara sistematis.⠀
😱2❤1
⠀
──
──
Yang membuat kasus ini semakin membingungkan adalah kondisi potongan tubuh tersebut. Beberapa bagian identitas seperti sidik jari, telapak tangan, telapak kaki, dan bentuk kepala tidak dihilangkan. Seolah pelaku tidak berusaha sepenuhnya menghapus jejak identitas korban.
Padahal, kalau tujuannya benar-benar ingin membuat korban tak dikenali… bagian-bagian itulah yang seharusnya dihilangkan lebih dulu.
Namun di sisi lain, bagian tertentu seperti anus, kandung kemih, dan pankreas justru tidak ditemukan sama sekali. Hilang. Tidak ada di dalam kardus. Tidak ditemukan di lokasi lain. Apakah bagian itu sengaja diambil? Dibuang terpisah? Atau memiliki tujuan tertentu yang lebih gelap?
Semakin detailnya dibuka… semakin terasa bahwa ini bukan tindakan acak. Ada pola. Ada keputusan yang dibuat dengan sadar. Dan sekarang pertanyaannya bukan cuma siapa korbannya — tapi siapa yang mampu melakukan ini dengan ketelitian seperti itu?
⠀
──
/Raizen leaned back slightly ; his fingers tapped once on the table before going still ; the red recording light reflected faintly on his glasses ; his voice dropped lower, slower, more deliberate/
──
彡🎙𝚁𝚊𝚒𝚣𝚎𝚗'𝚜 𝚂𝚙𝚎𝚊𝚔𝚒𝚗𝚐..
Yang membuat kasus ini semakin membingungkan adalah kondisi potongan tubuh tersebut. Beberapa bagian identitas seperti sidik jari, telapak tangan, telapak kaki, dan bentuk kepala tidak dihilangkan. Seolah pelaku tidak berusaha sepenuhnya menghapus jejak identitas korban.
Padahal, kalau tujuannya benar-benar ingin membuat korban tak dikenali… bagian-bagian itulah yang seharusnya dihilangkan lebih dulu.
Namun di sisi lain, bagian tertentu seperti anus, kandung kemih, dan pankreas justru tidak ditemukan sama sekali. Hilang. Tidak ada di dalam kardus. Tidak ditemukan di lokasi lain. Apakah bagian itu sengaja diambil? Dibuang terpisah? Atau memiliki tujuan tertentu yang lebih gelap?
Semakin detailnya dibuka… semakin terasa bahwa ini bukan tindakan acak. Ada pola. Ada keputusan yang dibuat dengan sadar. Dan sekarang pertanyaannya bukan cuma siapa korbannya — tapi siapa yang mampu melakukan ini dengan ketelitian seperti itu?
⠀
😱2❤1
⠀
──
──
Proses autopsi berlangsung kurang lebih dua jam. Ahli forensik yang menanganinya, Mun'im Idries, menggambarkan kondisi jasad dengan satu kalimat yang kemudian banyak dikutip: korban dipotong secara sistematis… “seperti kambing guling.”
Itu bukan metafora sembarangan.
Dari hasil pemeriksaan, korban diperkirakan seorang pria berusia 18 hingga 21 tahun. Tingginya sekitar 165 sentimeter, bertubuh tegak dan sedikit gemuk, serta memiliki kondisi fimosis. Ia dibunuh dan dimutilasi sekitar satu hingga dua hari sebelum ditemukan. Tes sidik jari tidak menemukan kecocokan dengan data mana pun.
Lebih mengerikan lagi, proses mutilasi diduga melibatkan lebih dari satu orang dan berlangsung selama tiga hingga empat jam.
Ini bukan tindakan spontan. Bukan ledakan emosi sesaat. Ini pekerjaan yang dilakukan dengan waktu… dan tenaga.
⠀
──
/Azaam exhaled slowly ; he removed his glasses for a second before putting them back on ; the paper in his hand rustled softly ; he leaned closer to the mic, voice steady but heavier than before/
──
彡🎙𝙰𝚣𝚊𝚊𝚖'𝚜 𝚂𝚙𝚎𝚊𝚔𝚒𝚗𝚐..
Proses autopsi berlangsung kurang lebih dua jam. Ahli forensik yang menanganinya, Mun'im Idries, menggambarkan kondisi jasad dengan satu kalimat yang kemudian banyak dikutip: korban dipotong secara sistematis… “seperti kambing guling.”
Itu bukan metafora sembarangan.
Dari hasil pemeriksaan, korban diperkirakan seorang pria berusia 18 hingga 21 tahun. Tingginya sekitar 165 sentimeter, bertubuh tegak dan sedikit gemuk, serta memiliki kondisi fimosis. Ia dibunuh dan dimutilasi sekitar satu hingga dua hari sebelum ditemukan. Tes sidik jari tidak menemukan kecocokan dengan data mana pun.
Lebih mengerikan lagi, proses mutilasi diduga melibatkan lebih dari satu orang dan berlangsung selama tiga hingga empat jam.
Ini bukan tindakan spontan. Bukan ledakan emosi sesaat. Ini pekerjaan yang dilakukan dengan waktu… dan tenaga.
⠀
⠀
──
Selama proses identifikasi berlangsung, ratusan orang datang mengaku kehilangan anggota keluarga. Harapan sempat muncul setiap kali ada yang merasa ciri-cirinya cocok. Setiap kedatangan membawa kemungkinan… bahwa akhirnya ada nama untuk jasad itu. Namun satu per satu, semuanya gugur. Tidak ada yang benar-benar sesuai dengan deskripsi korban.
Empat hari setelah penemuan, pada 27 November 1981, jasad pria tanpa identitas itu akhirnya dimakamkan di TPU Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat. Tanpa nama. Tanpa keluarga yang memastikan.
Dan hingga hari ini, Kasus Setiabudi 13 masih menjadi berkas dingin yang tak pernah benar-benar menemukan jawaban.
──
/Callunaa lowered her voice ; her fingers tightened slightly around the edge of the noscript ; the studio felt unusually quiet ; even the ticking clock seemed louder than before ; she looked up briefly before continuing/──
彡🎙𝙲𝚊𝚕𝚕𝚞𝚗𝚊𝚊'𝚜 𝚂𝚙𝚎𝚊𝚔𝚒𝚗𝚐..
Selama proses identifikasi berlangsung, ratusan orang datang mengaku kehilangan anggota keluarga. Harapan sempat muncul setiap kali ada yang merasa ciri-cirinya cocok. Setiap kedatangan membawa kemungkinan… bahwa akhirnya ada nama untuk jasad itu. Namun satu per satu, semuanya gugur. Tidak ada yang benar-benar sesuai dengan deskripsi korban.
Empat hari setelah penemuan, pada 27 November 1981, jasad pria tanpa identitas itu akhirnya dimakamkan di TPU Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat. Tanpa nama. Tanpa keluarga yang memastikan.
Dan hingga hari ini, Kasus Setiabudi 13 masih menjadi berkas dingin yang tak pernah benar-benar menemukan jawaban.
Siapa dia sebenarnya… dan kenapa tak seorang pun bisa memastikan identitasnya?⠀
❤2
⠀
──
Dan sampai di titik ini… kita cuma bisa berhenti. Bukan karena ceritanya selesai — tapi karena jawabannya memang belum pernah ditemukan.
Kadang kita mencari pelaku. Kadang kita mencari motif. Tapi dalam kasus seperti ini… yang kita cari justru identitas yang hilang.
──
Sometimes the scariest part of a case isn’t the violence — it’s the silence that follows after. Sunyi yang bertahan puluhan tahun. Sunyi yang tidak pernah benar-benar memberi penjelasan.
Dan mungkin… selama namanya belum ditemukan, cerita ini belum benar-benar selesai.
──
So, gua Azaam, bareng Callunaa dan Raizen. Thank you for spending your Kamis malam Jumat with us.
Ini #XANTREND — tempat di mana kita nggak cuma menceritakan ulang kasus… tapi mencoba memahami bayangan yang ditinggalkannya. Dan seperti biasa… stay curious. Because some stories don’t want to be forgotten.
⠀
──
/Raizen leaned back slowly ; he removed one side of his earphone ; the room felt heavier than when they started ; he glanced at the others before speaking in a quieter tone/──
彡🎙𝚁𝚊𝚒𝚣𝚎𝚗'𝚜 𝚂𝚙𝚎𝚊𝚔𝚒𝚗𝚐..
Dan sampai di titik ini… kita cuma bisa berhenti. Bukan karena ceritanya selesai — tapi karena jawabannya memang belum pernah ditemukan.
Kadang kita mencari pelaku. Kadang kita mencari motif. Tapi dalam kasus seperti ini… yang kita cari justru identitas yang hilang.
──
/Callunaa folded her hands on the table ; her voice softened ; outside, a faint sound of wind brushed against the studio window ; she continued slowly/──
彡🎙𝙲𝚊𝚕𝚕𝚞𝚗𝚊𝚊'𝚜 𝚂𝚙𝚎𝚊𝚔𝚒𝚗𝚐..
Sometimes the scariest part of a case isn’t the violence — it’s the silence that follows after. Sunyi yang bertahan puluhan tahun. Sunyi yang tidak pernah benar-benar memberi penjelasan.
Dan mungkin… selama namanya belum ditemukan, cerita ini belum benar-benar selesai.
──
/Azaam adjusted his microphone one last time ; the red REC light blinked softly ; he exhaled before delivering the final words of the night/──
彡🎙𝙰𝚣𝚊𝚊𝚖'𝚜 𝚂𝚙𝚎𝚊𝚔𝚒𝚗𝚐..
So, gua Azaam, bareng Callunaa dan Raizen. Thank you for spending your Kamis malam Jumat with us.
Ini #XANTREND — tempat di mana kita nggak cuma menceritakan ulang kasus… tapi mencoba memahami bayangan yang ditinggalkannya. Dan seperti biasa… stay curious. Because some stories don’t want to be forgotten.
⠀
❤2