A MEMORANDUM:
“We bequeathed all the otherworldly adventures between two souls in heaven-bound romanticism.”
Among the shadow and winds that blow in mortal prospect, the voice of courage for a rendezvous hail. On behalf of “VILOSIE FANCHIE LAGRAF” shall take part in the wander by the gateway of greatness with REGULAR 4 DAYS which abide amidst bonds of TELEGRAM within a period of time 1-5 JULY 2025. Intertwined in every footfall in a secret they share, they create their world.
👏2
A MEMORANDUM:
“We bequeathed all the otherworldly adventures between two souls in heaven-bound romanticism.”
Among the shadow and winds that blow in mortal prospect, the voice of courage for a rendezvous hail. On behalf of “NIZAM ATHALLA JALENDRA” shall take part in the wander by the gateway of greatness with REGULAR PACKAGE 3 DAYS which abide amidst bonds of TELEGRAM within a period of time 07-10 JULY 2025 Intertwined in every footfall in a secret they share, they create their world.
A MEMORANDUM:
“We bequeathed all the otherworldly adventures between two souls in heaven-bound romanticism.”
Among the shadow and winds that blow in mortal prospect, the voice of courage for a rendezvous hail. On behalf of “VILOSIE FANCHIE LAGRAF” shall take part in the wander by the gateway of greatness with OTP UNMUTE which abide amidst bonds of TELEGRAM within a period of time 11 JULY 2025. Intertwined in every footfall in a secret they share, they create their world.
❤2👍1
A MEMORANDUM:
“We bequeathed all the otherworldly adventures between two souls in heaven-bound romanticism.”
Among the shadow and winds that blow in mortal prospect, the voice of courage for a rendezvous hail. On behalf of “VILOSIE FANCHIE LAGRAF” shall take part in the wander by the gateway of greatness with OTP UNMUTE which abide amidst bonds of TELEGRAM within a period of time 17 JULY 2025. Intertwined in every footfall in a secret they share, they create their world.
❤1👍1
A MEMORANDUM:
“We bequeathed all the otherworldly adventures between two souls in heaven-bound romanticism.”
Among the shadow and winds that blow in mortal prospect, the voice of courage for a rendezvous hail. On behalf of “VILOSIE FANCHIE LAGRAF” shall take part in the wander by the gateway of greatness with OTP UNMUTE 60 MINUTES which abide amidst bonds of TELEGRAM within a period of time 08 AUGUST 2025. Intertwined in every footfall in a secret they share, they create their world.
🔥1👏1
Forwarded from AREA RENTAL
Peringatan: Demokrasi Dikepung di Jalanan Ibu Kota
Di jantung negara demokrasi, suara rakyat seharusnya bergema tanpa rasa takut. Namun akhir Agustus 2025 menjadi saksi bisu ketika palu kekuasaan menghantam mimbar kebebasan.
Di depan gedung perwakilan rakyat, yang terjadi justru pengingkaran terhadap hak paling dasar: hak untuk bersuara. Tanggal 25-28 Agustus 2025 akan tercatat dalam sejarah sebagai hari ketika demokrasi kita mengalami ujian terberat.
Catatan Kelam Empat Hari yang Mengguncang Nurani
Sementara di balik tembok gedung mewah, para wakil rakyat mungkin sedang menari-nari di atas panggung kekuasaan, rakyat yang mereka wakili justru terjepit di antara aspal panas dan pentungan baja. Sebuah ironi yang menyayat: ketika rakyat berteriak meminta keadilan, para penguasa justru asyik berpesta dalam gemerlap kursi empuk.
Sejak 25 Agustus, gelombang manusia membanjiri jalan-jalan menuju DPR RI. Mereka datang dengan harapan, dengan keyakinan pada proses demokratis. Namun yang mereka terima adalah pelajaran pahit tentang kekerasan negara.
Aparat yang seharusnya melindungi, justru berbalik menjadi ancaman. Ratusan pelajar masa depan bangsa mengalami penangkapan dan penganiayaan. Bahkan yang memilukan, hampir dua ratus di antaranya masih di bawah umur yaitu anak-anak yang seharusnya berada di kelas, justru mengalami trauma kekerasan negara.
Dunia jurnalisme pun tak luput dari amuk kekuasaan. Para jurnalis yang menjalankan tugas mulia pencari fakta justru menjadi sasaran amarah. Kebenaran menjadi musuh yang harus dibungkam.
Tragedi mencapai puncaknya pada 28 Agustus. Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang sedang mencari nafkah, tewas mengenaskan terlindas mobil taktis Brimob. Rekannya, Umar, selamat tapi harus berjuang melawan luka-luka berat. Kematian Affan menjadi simbol nyata bagaimana nyawa rakyat dianggap remeh oleh penguasa.
Yang lebih memprihatinkan, beredar laporan bahwa polisi menggunakan gas air mata kedaluwarsa terhadap massa. Tindakan yang tidak hanya brutal tetapi juga menunjukkan sikap ceroboh terhadap keselamatan masyarakat.
Di tengah tragedi kemanusiaan ini, muncul narasi-narasi pengalihan isu. Alih-alih mempertanyakan kekerasan aparat, sebagian pihak justru menyoroti peran pelajar dan pekerja yang turun ke lapangan. Seolah-olah nyawa manusia dan hak konstitusional warga negara bisa dikalahkan oleh argumentasi sempit tentang ketertiban.
Permintaan maaf Kapolda dan pemeriksaan terhadap 7 anggota polisi adalah langkah awal, namun tidak cukup untuk mengobati luka yang sudah terlanjur dalam. Kematian Affan tidak bisa ditebus dengan permintaan maaf. Trauma ratusan pelajar tidak akan hilang dengan pemeriksaan biasa.
Kini saatnya kita membuktikan bahwa demokrasi bukan hanya kata-kata. Mari kita jaga bersama api perjuangan ini dengan cara:
- Menyebarkan informasi yang benar tentang peristiwa ini
- Mengawal proses hukum hingga tuntas tanpa kompromi
- Mengingat setiap korban dan memperjuangkan keadilan untuk mereka
- Menolak segala bentuk narasi yang mengalihkan dari substansi kekerasan negara
Jangan biarkan nyawa Affan dan trauma ratusan pelajar sia-sia. Demokrasi kita sedang sakit, dan hanya suara kolektif kita yang bisa menyembuhkannya.
Di jantung negara demokrasi, suara rakyat seharusnya bergema tanpa rasa takut. Namun akhir Agustus 2025 menjadi saksi bisu ketika palu kekuasaan menghantam mimbar kebebasan.
Di depan gedung perwakilan rakyat, yang terjadi justru pengingkaran terhadap hak paling dasar: hak untuk bersuara. Tanggal 25-28 Agustus 2025 akan tercatat dalam sejarah sebagai hari ketika demokrasi kita mengalami ujian terberat.
Catatan Kelam Empat Hari yang Mengguncang Nurani
Sementara di balik tembok gedung mewah, para wakil rakyat mungkin sedang menari-nari di atas panggung kekuasaan, rakyat yang mereka wakili justru terjepit di antara aspal panas dan pentungan baja. Sebuah ironi yang menyayat: ketika rakyat berteriak meminta keadilan, para penguasa justru asyik berpesta dalam gemerlap kursi empuk.
Sejak 25 Agustus, gelombang manusia membanjiri jalan-jalan menuju DPR RI. Mereka datang dengan harapan, dengan keyakinan pada proses demokratis. Namun yang mereka terima adalah pelajaran pahit tentang kekerasan negara.
Aparat yang seharusnya melindungi, justru berbalik menjadi ancaman. Ratusan pelajar masa depan bangsa mengalami penangkapan dan penganiayaan. Bahkan yang memilukan, hampir dua ratus di antaranya masih di bawah umur yaitu anak-anak yang seharusnya berada di kelas, justru mengalami trauma kekerasan negara.
Dunia jurnalisme pun tak luput dari amuk kekuasaan. Para jurnalis yang menjalankan tugas mulia pencari fakta justru menjadi sasaran amarah. Kebenaran menjadi musuh yang harus dibungkam.
Tragedi mencapai puncaknya pada 28 Agustus. Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang sedang mencari nafkah, tewas mengenaskan terlindas mobil taktis Brimob. Rekannya, Umar, selamat tapi harus berjuang melawan luka-luka berat. Kematian Affan menjadi simbol nyata bagaimana nyawa rakyat dianggap remeh oleh penguasa.
Yang lebih memprihatinkan, beredar laporan bahwa polisi menggunakan gas air mata kedaluwarsa terhadap massa. Tindakan yang tidak hanya brutal tetapi juga menunjukkan sikap ceroboh terhadap keselamatan masyarakat.
Di tengah tragedi kemanusiaan ini, muncul narasi-narasi pengalihan isu. Alih-alih mempertanyakan kekerasan aparat, sebagian pihak justru menyoroti peran pelajar dan pekerja yang turun ke lapangan. Seolah-olah nyawa manusia dan hak konstitusional warga negara bisa dikalahkan oleh argumentasi sempit tentang ketertiban.
Permintaan maaf Kapolda dan pemeriksaan terhadap 7 anggota polisi adalah langkah awal, namun tidak cukup untuk mengobati luka yang sudah terlanjur dalam. Kematian Affan tidak bisa ditebus dengan permintaan maaf. Trauma ratusan pelajar tidak akan hilang dengan pemeriksaan biasa.
Kini saatnya kita membuktikan bahwa demokrasi bukan hanya kata-kata. Mari kita jaga bersama api perjuangan ini dengan cara:
- Menyebarkan informasi yang benar tentang peristiwa ini
- Mengawal proses hukum hingga tuntas tanpa kompromi
- Mengingat setiap korban dan memperjuangkan keadilan untuk mereka
- Menolak segala bentuk narasi yang mengalihkan dari substansi kekerasan negara
Jangan biarkan nyawa Affan dan trauma ratusan pelajar sia-sia. Demokrasi kita sedang sakit, dan hanya suara kolektif kita yang bisa menyembuhkannya.
❤1
Forwarded from AREA RENTAL
Sumber Informasi dan Saluran Bantuan
Untuk memperdalam pemahaman dan mengambil tindakan, berikut adalah sumber-sumber informasi terpercaya dan saluran bantuan yang dapat dihubungi:
📞 Saluran Pengaduan dan Bantuan:
Lembaga Bantuan Hukum Yusuf (081287127288)
Lembaga Bantuan Hukum Jakarta (089502857093)
Kontras (021-3919097)
Lokataru (021-22474143)
📰 Berita Terkait Tragedi 28 Agustus:
• Kronologi Lengkap Kasus Affan:
https://megapolitan.kompas.com/read/2025/08/29/05322711/imbas-ojol-terlindas-rantis-brimob-bem-ui-dan-bem-si-kerakyatan-bakal
https://news.detik.com/berita/d-8084828/ojol-tewas-dilindas-rantis-rekan-rekannya-datangi-mako-brimob-kwitang/amp
• Laporan Langsung Demonstrasi:
https://www.liputan6.com/amp/6144217/live-report-demo-28-agustus-2025-di-gedung-dpr
• Latar Belakang Tuntutan Demo (Isu Penurunan Upah):
https://www.liputan6.com/amp/6145066/buruh-tuntut-kenaikan-upah-10-saat-demo-hari-ini-begini-kata-pengusaha
🎥 Bukti Visual Kekerasan Aparat:
• Penggunaan Gas Air Mata di Stasiun dan Tempat Publik:
https://x.com/TirtoID/status/1961043051746623961
https://x.com/_Taula_/status/1961034604736872797
https://x.com/detikcom/status/1960988139167903809
https://x.com/barengwarga/status/1961099872700072183
Mari terus menyebarkan informasi yang akurat dan mengawal proses hukum untuk memastikan keadilan ditegakkan. Setiap suara yang bergabung akan memperkuat perjuangan kita melawan kekerasan negara dan ketidakadilan.
Untuk memperdalam pemahaman dan mengambil tindakan, berikut adalah sumber-sumber informasi terpercaya dan saluran bantuan yang dapat dihubungi:
📞 Saluran Pengaduan dan Bantuan:
Lembaga Bantuan Hukum Yusuf (081287127288)
Lembaga Bantuan Hukum Jakarta (089502857093)
Kontras (021-3919097)
Lokataru (021-22474143)
📰 Berita Terkait Tragedi 28 Agustus:
• Kronologi Lengkap Kasus Affan:
https://megapolitan.kompas.com/read/2025/08/29/05322711/imbas-ojol-terlindas-rantis-brimob-bem-ui-dan-bem-si-kerakyatan-bakal
https://news.detik.com/berita/d-8084828/ojol-tewas-dilindas-rantis-rekan-rekannya-datangi-mako-brimob-kwitang/amp
• Laporan Langsung Demonstrasi:
https://www.liputan6.com/amp/6144217/live-report-demo-28-agustus-2025-di-gedung-dpr
• Latar Belakang Tuntutan Demo (Isu Penurunan Upah):
https://www.liputan6.com/amp/6145066/buruh-tuntut-kenaikan-upah-10-saat-demo-hari-ini-begini-kata-pengusaha
🎥 Bukti Visual Kekerasan Aparat:
• Penggunaan Gas Air Mata di Stasiun dan Tempat Publik:
https://x.com/TirtoID/status/1961043051746623961
https://x.com/_Taula_/status/1961034604736872797
https://x.com/detikcom/status/1960988139167903809
https://x.com/barengwarga/status/1961099872700072183
Mari terus menyebarkan informasi yang akurat dan mengawal proses hukum untuk memastikan keadilan ditegakkan. Setiap suara yang bergabung akan memperkuat perjuangan kita melawan kekerasan negara dan ketidakadilan.
KOMPAS.com
Imbas Ojol Terlindas Rantis Brimob, BEM UI dan BEM SI Kerakyatan Bakal Demo Hari Ini
BEM SI Kerakyatan berencana unjuk rasa setelah insiden tragis ojol terlindas rantis Brimob. Mahasiswa tuntut keadilan.
❤1
Our country is going through difficult time right now, so for those for are stay keep silent until now, please think again, we have a serious problem and if all we can do is just spread awareness, do it.
❤3
#STRANGERENTAL ANNOUNCEMENT
Since 2023, STRANGER RENTAL has been a home for fleeting hearts — a space where strangers met under borrowed stars, sharing warmth, laughter, and stories that bloomed in borrowed time. What began as a small corner soon became a world of its own, where unfamiliar souls found comfort in the strange.
Now, as the clock turns and our story reaches its twilight, we must say goodbye. On October 21st, 2025, Stranger Rental will close its chapter permanently. Every tale has an ending — and ours, too, must rest.
To every Rangers and Creatures who once wandered through our doors — thank you for making this space feel alive, for the late-night talks, the laughter, and the quiet moments that needed no names. We’re sorry this journey must end, but endlessly grateful for the magic you brought into it.
May the echoes of our brief hellos linger softly in your memory.
Even when the lights go out, may you find warmth in other worlds,
and remember — every stranger you meet carries a piece of a story yet to be told.
With love, always,
Stranger Rental
Since 2023, STRANGER RENTAL has been a home for fleeting hearts — a space where strangers met under borrowed stars, sharing warmth, laughter, and stories that bloomed in borrowed time. What began as a small corner soon became a world of its own, where unfamiliar souls found comfort in the strange.
Now, as the clock turns and our story reaches its twilight, we must say goodbye. On October 21st, 2025, Stranger Rental will close its chapter permanently. Every tale has an ending — and ours, too, must rest.
To every Rangers and Creatures who once wandered through our doors — thank you for making this space feel alive, for the late-night talks, the laughter, and the quiet moments that needed no names. We’re sorry this journey must end, but endlessly grateful for the magic you brought into it.
May the echoes of our brief hellos linger softly in your memory.
Even when the lights go out, may you find warmth in other worlds,
and remember — every stranger you meet carries a piece of a story yet to be told.
With love, always,
Stranger Rental
🫡7🕊6